18 Oktober 2016 - 16:21
Kesuksesan Perang di Mosul

Operasi pembebasan kota Mosul, Provinsi Nineveh, Irak utara dari pendudukan kelompok teroris Takfiri Daesh dimulai sejak Senin (17/10) dini hari dan terus meraih prestasi gemilang.

Menurut Kantor Berita ABNA, Pasukan gabungan Irak hari Selasa (18/10) melancarkan serangan besar-besaran dari al-Qayyarah, selatan Mosul ke arah pusat kota. Sumber-sumber Irak melaporkan, pasukan gabungan Irak hingga kini telah berhasil membebaskan lebih dari 15 desa di selatan Mosul dari pendudukan Daesh.

Peshmerga dan pasukan relawan rakyat membantu militer Irak di perang melawan Daesh dari arah timur dan selatan Mosul. Keberhasilan hari pertama operasi pembebasan Mosul menunjukkan keseriusan pasukan gabungan Irak mengusir teroris Daesh dari Provinsi Nineveh.

Kemenangan final operasi pembebasan Mosul terletak pada berlanjutnya kepemimpinan operasi ini ditangan Irak. Amerika Serikat dan sejumlah negara kawasan berusaha memimpin operasi pembebasan Mosul dari tangan Daesh, namun sikap tegas Perdana Menteri Haider al-Abadi mencegah ambisi Washington.

Amerika dan Turki mengerahkan banyak upaya untuk berperan lebih besar di operasi pembebasan Mosul, namun keduanya gagal. Operasi ini berlangsung di bawah kepemimpinan pasukan gabungan Irak. Pasukan ini menyerang Mosul dari berbagai sisi.

Bersamaan dengan pergerakan pasukan gabungan Irak ke arah Mosul, anasir teroris Daesh mulai melarikan diri dari medan perang. Kebingungan Daesh di Mosul sangat kentara dan mereka tidak memiliki opsi kecuali keluar dari kota ini.

Sebelumnya, berita yang dirilis kantor berita Ria Novosti terkait kesepakatan Amerika dan Arab Saudi untuk menarik anasir Daesh dari Mosul dan mengirimkan mereka ke Suriah telah membuktikan dengan jelas kerjasama kedua negara ini dengan Daesh. Upaya Amerika Serikat untuk memimpin operasi pembebasan Mosul, ketika negara ini memainkan peran vital dalam mendukung Daesh serta berbagai kelompok teroris lainnya sangat kontradiktif. Di kondisi seperti ini, sikap terpuji dan tegas pemerintah Irak membuat operasi pembebasan Mosul tidak berjalan sesuai dengan rencana Amerika.

Mosul merupakan pusat pergerakan Daesh di Irak dan mengingat keseriusan bangsa Irak menumpas Daesh, pengulangan sikap kontradiktif Amerika terkait perang kontra terorisme telah diprediksikan.

Amerika Serikat merupakan pendiri kelompok teroris baik di Suriah atau pun Irak. Akar sejarah terbentuknya kelompok teroris di kawasan kembali pada kebijakan keliru Amerika Serikat. Hal ini mendorong Irak di perang melawan terorisme tidak pernah percaya kepada Amerika dan mereka berada di front terdepan dalam perang melawan Daesh di berbagai wilayah Irak, dan kini mereka terlibat langsung dalam perang melawan fenomena buruk ini.

Persatuan pasukan gabungan Irak di operasi pembebasan Mosul merupakan kunci kesuksesan operasi menentukan ini dan tanpa membutuhkan pada bantuan Amerika, kondisi Mosul akan berubah menguntungkan rakyat Irak. Presiden Irak Fouad Massoum menekankan kian dekatnya pembebasan kota Mosul dan kekalahan pasti kelompok teroris Daesh dengan memperhatikan persatuan dan sikap teladan bangsa Irak.